Banyak Ritel Tutup Gerai, Ini Tanggapan Menteri Perdagangan

Sudah satu tahun belakangan sejumlah pengusaha ritel pendapatannya terjun bebas dan nyaris bangkrut. Di Amerika Serikat, banyak peritel gagal karena banyaknya para pelaku pasar yang memiliki kesamaan produk yang dijual. Pada tahun 2015 toko ritel offline yaitu Perusahaan ritel CD musik Disc Tarra sempat menutup beberapa gerainya di akhir tahun 2015, namun akhirnya perusahaan ini resmi menutup 100 gerainya pada tahun 2016. Kegiatan yang dilakukan dalam bisnis retail ( ritel ) adalah menjual berbagai produk , jasa atau keduanya, kepada konsumen untuk keperluan konsumsi pribadi maupun bersama.
Perusahaan ritel CD musik Disc Tarra sempat menutup beberapa gerainya di akhir tahun 2015, namun lama kelamaan perusahaan ini resmi menutup 100 gerainya pada tahun 2016. Menteri Perdagangan Eng­gartiasti Lukita mengungkap­kan, daya beli masyarakat tidak mengalami permasalahan berarti hingga menyebabkan beberapa ritel menutup gerai offline-nya. Wakil Ketua Umum Aso­siasi Pengusaha Ritel Indone­sia (Aprindo) Tutum Rahanta mengaku, industri ritel memang dalam tren penurunan.
Setiap tahun, diperkirakan pertumbuhan rata-rata (CAGR) bisnis retail modern mencapai 7,4 persen dari 65,2 miliar dollar AS pada 2016. Menurutnya sektor ritel di Indonesia memiliki potensi jangka panjang yang baik. Sebelumnya pada era 2012-2013 industri ritel mengalami puncak kejayaan dengan pertumbuhan 12-13%. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Hariyadi Sukamdani mengatakan, perlu ada upaya dari pemerintah agar persoalan tutupnya gerai ritel tidak terus berlanjut.
Melemahnya industri ritel, pun tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga pusat-pusat perbelanjaan di negara lain seperti Amerika Serikat. Padahal, CEO Bukalapak Achmad Zaky, ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, mengatakan bahwa pangsa pasar bisnis ritel daring atau volume transaksi e-commerce, sekitar 2%. Jadi begini, daya beli masyarakat turun, penjualan secara online memang mempengaruhi toko ritel off-line, mulai dari toko elektronik, fashion, sepatu, kosmetik dan industri tertentu sangat terganggu, semuanya migrasi ke online karena cost bisa lebih murah,” ujarnya pekan lalu.
Serunya Mengunjungi Proyek MRT Jakarta!
Sebab, tren tutupnya bisnis retail offline gak hanya terjadi di Indonesia. Pada tiga minggu awal Juni saja, data Nielsen Retail Establishment Survey menunjukkan pertumbuhan ritel secara nasional hanya 3 persen. Yasa pun mengungkapakan, menurut data yang pernah ia baca bahwa jumlah belanja retil online di Indonesia masih di bawah 1%. Itu artinya peluang bagi bisnis retil online masih sangat besar.
Proyek MRT Dongkrak Sektor Properti Jakarta
Senada dengan Rosan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani juga mengatakan bahwa menjamurnya toko online bukan menjadi penyebab utama tergerusnya pasar ritel modern. Pada model bisnis lama, sekitar 80% lebih mal disesaki oleh toko-toko ritel. Senasib seperti toko ritel offline lainnya, menjelang penutupan Disc Tarra mengobral harga barangnya dengan potongan harga yang fantastis.
Bahkan, Roy menyebut gaya hidup senang-senang itu telah menggerus 50% pendapatan industri ritel pada 2017. Menurut dia, minat masyarakat untuk berbelanja mulai menu­run sejak bisnis online mulai berkembang. Senada, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Suahasil Nazara melihat bahwa daya beli masyarakat bisa saja benar beralih dari ritel ke online.
Dengan gambaran itu, raksasa ritel Indonesia PT Mitra Adiperkasa tahun ini pun masih menargetkan pertumbuhan pendapatan sebanyak 13%. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani, berpendapat, permasalahan utama menurunnya kinerja perusahaan ritel adalah karena persoalan tenaga kerja. Sebelumnya perseroan telah menandatangani business acquisition agreement oleh keduabelah pihak dilakukan pada 19 April 2017 terkait penjualan bisnis 7-ELeven kepada anak usaha PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk.
Penjelasan mengenai kondisi masyarakat kelas menengah atas ini, sinkron dengan analisis Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Ari Kuncoro beberapa waktu lalu. Tren pertumbuhan penjualan ritel atau eceran year on year memang menurun. Salah satu penyebab toko-toko ritel itu bertumbangan disebut-sebut adalah karena pesatnya perkembangan bisnis berbasis online.
PT RIFAN FINANCINDO
Menurutnya, keputusan untuk menutup toko ini dilakukan setelah mempertimbangkan perubahan tren ritel global secara hati-hati. Kemungkinan besar, daya beli masyarakat dan menjamurnya bisnis ritel itu sendiri yang menjadi penyebab jatuhnya bisnis tersebut. Di negara maju seperti AS dan Tiongkok, tahun ini angka penetrasi pasar bisnis e-commerce baru 12-15% terhadap total bisnis ritel (offline dan online).