Chatib Basri Enggan Tanggapi Rumor Soal Kandidat Gubernur BI

Tak hanya itu, Chatib turut menilai mata uang digital yang tengah dikaji BI berpotensi lebih aman dan terpercaya ketimbang cryptocurrency, seperti Bitcoin. “Saya sadar kekhawatiran BI soal bitcoin. Adapun bitcoin itu bersumber dari bubble [gelembung harga], underlying asetnya nggak ada, tapi tidak bisa dilarang,” ujar Chatib.
Mandiri Investment Forum 2018 Dorong Sektor Manufaktur
Selain pernah menjadi Menteri Keuangan di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, yakni pada 21 Mei 2013 sampai dengan 20 Oktober 2014, Chatib juga pernah menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal pada 14 Juni 2012 hingga 1 Oktober 2013. Selain Chatib, nama-nama lain yang disebut berpotensi menggantikan Agus Martowardojo sebagai Gubernur BI ialah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro dan Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara.
Waspadai potensi penurunan harga emas
Presiden Joko Widodo sendiri mengaku belum memutuskan calon pengganti Agus Martowardojo. Kendati demikian, Jokowi menyebutkan bahwa Gubernur BI yang baru nantinya dapat memberikan kepercayaan kepada publik dan pasar, serta mengenal baik hal-hal yang berkaitan dengan makro ekonomi negara.
PT RIFAN FINANCINDO
Menteri Keuangan (2013-2014), Chatib Basri enggan menanggapi rumor yang menyatakan dirinya berpeluang menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2018-2023. Adapun Chatib hanya menjawab singkat saat ditanya mengenai rumor tersebut serta menyerahkan keputusan pemilihan Gubernur BI kepada Presiden Joko Widodo. “Untuk itu, tanya sama Presiden. Saya nggak jawab [mengenai rumor tersebut],” ucap Chatib saat ditemui seusai mengisi acara seminar di Hotel Ritz Carlton, Jakarta pada Senin (5/2/2018) sore.
Pagi ini, IHSG Dibuka Naik 40 Poin ke 6.638
Kendati ogah ditanya mengenai peluang dirinya menjadi kandidat Gubernur BI, namun Chatib sempat menyatakan apresiasinya terhadap kajian mata uang digital yang saat ini sedang dilakukan BI. Menurut Chatib, perkembangan zaman menuntut Bank Sentral untuk mengkaji teknologi finansial yang berpotensi terjadi di masa mendatang, salah satunya mata uang digital tersebut. Chatib pun menilai munculnya mata uang digital tidak bisa dihindarkan. “Nanti orang akan memilih [uang] dalam bentuk voucher, seperti Apple Pay. Mau nggak mau Bank Sentral memang harus memikirkan hal itu,” kata Chatib.