Dirut Waskita Akui Tak Terlalu Perhatikan Keselamatan Kerja

“Tapi 2017 kemarin produksinya sampai Rp 45 triliun sehingga dengan kenaikan ukuran produksi ini maka secara nalar harus diikuti manajemen K3 yang lebih canggih,” tuturnya saat jumpa pers di Media Center Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jakarta Selatan, Rabu (28/2/2018), dilansir kompas.com. Peningkatan tersebut saat ini tengah dievaluasi oleh direksi Waskita Karya. Menurut Choliq, pihaknya masih mencari jumlah nilai produksi pertahun yang mampu dan bisa diatasi oleh Waskita Karya.
PT RIFANFINANCINDO BERJANGKA - Rifan Financindo Optimistis Transaksi 500.000 Lot Tercapai
Kereta Bandara Sempat Mogok, Kemenhub dan Railink Minta Maaf
“Sedang kami kaji secara baik. Karena memang tiga tahun terakhir itu setiap tahunnya tumbuh 100 persen. Sedangkan tenaga kerja yang ada jauh di bawah itu, cuma 20 sampai 30 persen dalam tiga tahun kemarin,” lanjutnya. Sebenarnya, peningkatan nilai produksi yang berbanding terbalik dengan jumlah SDM yang ada, menurut Choliq merupakan strateginya sebagai direktur utama. Namun, strategi ini malah mengakibatkan meningkatnya kecelakaan kerja yang terjadi di proyek yang ditangani Waskita Karya.
BI Siap Intervensi Jika Rupiah Terus Melemah
“Mohon maaf karena kecelakaan kerja paling banyak terjadi di Waskita Karya. Saya 35 tahun di finance jadi yang ada di belakang kepala saya adalah kalau mau jadi perusahaan besar maka cari proyek sebanyak-banyaknya dan sediakan uang secukupnya untuk memulai proyek. Itu membuat K3 sedikit terlupakan,” sesalnya. Tak dapat dipungkiri, peningkatan nilai proyek yang tak sebanding dengan jumlah SDM yang tersedia, dapat berpengaruh buruk. Salah satunya adalah kecelakaan kerja. Dari tahun ke tahun, PT Waskita Karya (Persero) Tbk mengalami peningkatan nilai proyek yang dibangun. Sayangnya, peningkatan ini tak dibarengi dengan peningkatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
Nilai Tukar Rupiah Sentuh Rp 13.775 per Dollar AS
Hal tersebut diakui oleh Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero) Tbk M Choliq. Menurutnya, peningkatan nilai produksi atau nilai proyek yang didapatkan Waskita Karya menyebabkan kurangnya perhatian terhadap aspek K3. Dibandingkan dua atau tiga tahun lalu, peningkatannya terbilang sangat pesat. Sebelumnya, proyek yang diperoleh Waskita Karya dalam setahun sekitar Rp 10 triliun sampai Rp 15 triliun.